Skip to main content

Posts

Diskusi: Pendidikan Berbasis Komunitas

Rhys Marmara Luthfi

Anak keduaku, Rhys Maramara Luthfi, 21 Oktober 2015

Menyaksikan Sakura Mekar di Istanbul

Oleh Luthfi Widagdo Eddyono, Mengawali musim semi yang sudah di depan mata, Indonesia-Turkey Research Community (ITRC) melakukan berbagai kunjungan budaya ke berbagai taman yang ada di Istanbul Turki. Salah satu taman terbaik yang sempat ditapaki pada Sabtu, 4 April 2015 adalah Baltalimanı Japon Bahçesi (Taman Jepang Baltalimanı) yang masih menyisakan beberapa pohon sakura yang sungguh indah terlihat di berbagai sudutnya. Berada di Distrik Baltalimanı Istanbul, tak jauh dari Selat Bhosporus, Taman Jepang tersebut merupakan simbol hubungan kedekatan Turki dan Jepang, khususnya bagi Kota Istanbul dan Kota Shimonoseki yang terikat pada program “ sister city ”. Baltalimanı Japon Bahçesi tampak sangat serius ditata dengan berbagai kelengkapan suasana negeri matahari terbit. Berada di balik pintu kayu yang jadi seperti pembatas dunia dan negara, memasuki taman merupakan suatu pengalaman tersendiri bagi siapapun, yang menyenangkan, karena akan langsung disuguhi pemandangan asia...

Mohammad Natsir: Sang Penggagas “Negara Demokrasi Islam”

Oleh Luthfi Widagdo Eddyono Luthfi Assyaukanie dalam buku Ideologi Islam dan Utopia, Tiga Model Negara Demokrasi di Indonesia (2011) menyebutkan paling tidak secara umum, terdapat tiga model pemerintahan yang dibayangkan dan didukung oleh tiga generasi Muslim Indonesia, yaitu pertama , Negara Demokrasi Islam yang bertujuan menjadikan Islam sebagai dasar negara, serta mendorong kaum Muslim mengambil peran utama dalam kehidupan sosial dan politik Indonesia. Kedua , Negara Demokrasi Agama, yakni model yang menekankan pentingnya kehidupan pluralis di Indonesia dan bertujuan menjadikan negara pengawal semua agama. Ketiga , Negara Demokrasi Liberal, yang dapat juga disebut Negara Demokrasi Sekular yang bertujuan membebaskan agama dari dominasi negara (seperti yang diusung model kedua) dan mengusung sekularisasi sebagai fondasi negara. Terkait dengan itu, menurut Assyaukanie, Mohammad Natsir (1908-1993) adalah tokoh penting baik dalam wacana intelektual tentang Islam maupun dalam seja...

H.R. Rasuna Said: Tokoh Perempuan dan Orator Pergerakan

Oleh Luthfi Widagdo Eddyono Salah satu nama jalan protokol terkemuka di Jakarta adalah Jalan H.R. Rasuna Said. Jalan yang sangat dikenal di kawasan Kuningan Jakarta tersebut merupakan kawasan bisnis mewah, sekaligus sumber kemacetan pada jam sibuk Jakarta. Tidak hanya karena banyak pengguna mobil yang lalu lalang, tetapi juga karena di wilayah itu kerap dijadikan wilayah demonstrasi mengingat di sana terdapat sebuah kantor lembaga negara yang sangat penting bagi Republik Indonesia, yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Siapa H.R. Rasuna Said? Tulisan “Jejak Konstitusi” kali ini akan mengupas salah seorang perempuan hebat pejuang kemerdekaan Indonesia yang juga penerima gelar Pahlawan Nasional sejak tahun 1974. Hajjah Rangkayo (H.R.) Rasuna Said lahir di Desa Panyinggahan, Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada 15 September 1910. Ayahnya bernama Muhamad Said, keturunan bangsawan Minang, seorang pengusaha dan aktivis pergerakan juga. Seusai menamatkan pendidikan das...

Syafruddin Prawiranegara: Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia

Oleh    Luthfi Widagdo Eddyono Syafruddin Prawiranegara kerap disebut sebagai Presiden juga, karena pria yang lahir di Serang pada 28 Februari 1911 ini pernah menjabat Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang terbentuk karena Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948. Syafruddin Prawiranegara pernah menempuh pendidikan ELS (1925), MULO Madiun (1928), dan AMS Bandung (1931). Selanjutnya beliau bersekolah di Sekolah Tinggi Hukum Batavia (sekarang Fakultas Hukum Universitas Indonesia). Pada tahun 1939-1940, beliau pernah menjadi pegawai Siaran Radio Swasta. Kemudian sempat menjadi Petugas Departemen Keuangan Belanda (1940-1942) dan Pegawai Departemen Keuangan Jepang ketika Jepang berkuasa di Hindia Belanda. Syafruddin Prawiranegara kemudian menjadi Anggota Badan Pekerja KNIP setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945. Aktif pada Partai Masyumi, pada tahun 1946 beliau menjadi Wakil Menteri Keuangan/Menteri Muda Keuangan Kabinet Sjahrir II dan...

Siti Soekaptinah: “Tokoh Kongres Perempoean Indonesia Pertama dan Anggota BPUPKI, Konstituante, DPRS RI, serta DPR RI”

Oleh Luthfi Widagdo Eddyono Lahir di Yogyakarta pada tanggal 28 Desember 1907, Siti Soekaptinah merupakan satu dari sedikit perempuan Indonesia yang mendapat kesempatan mengenyam pendidikan. Sempat bersekolah di HIS (diploma 1922) dan MULO Kweekschool Taman Siswa Yogyakarta (diploma 1926), Siti Soekaptinah kemudian menjadi guru sekolah “Taman Siswa” Yogyakarta yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantoro (Soewardi Soerjaningrat) bersama istrinya Nyi. Hadjar Dewantoro yang merupakan sekolah dengan sistem pendidikan nasionalis independen. Selain menjadi guru, dari tahun 1926-1929, Siti Soekaptinah juga menjadi pembantu Urusan Masyarakat Semarang mengepalai pondok orang ropoh dan menjadi anggota Gemeente Raad Semarang. Siti Soekaptinah juga pada tahun 1928-1929 merupakan penulis badan Kongres Perempoean Indonesia Pertama di Yogyakarta.  Menurut Susan Blackburn dalam buku Kongres Perempuan Pertama, Tinjauan Ulang, pada tahun 1922 Nyi. Hadjar Dewantoro telah membentuk organisasi Wa...