Friday, October 30, 2015

Siti Soekaptinah: “Tokoh Kongres Perempoean Indonesia Pertama dan Anggota BPUPKI, Konstituante, DPRS RI, serta DPR RI”

Oleh Luthfi Widagdo Eddyono

Lahir di Yogyakarta pada tanggal 28 Desember 1907, Siti Soekaptinah merupakan satu dari sedikit perempuan Indonesia yang mendapat kesempatan mengenyam pendidikan. Sempat bersekolah di HIS (diploma 1922) dan MULO Kweekschool Taman Siswa Yogyakarta (diploma 1926), Siti Soekaptinah kemudian menjadi guru sekolah “Taman Siswa” Yogyakarta yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantoro (Soewardi Soerjaningrat) bersama istrinya Nyi. Hadjar Dewantoro yang merupakan sekolah dengan sistem pendidikan nasionalis independen.
Selain menjadi guru, dari tahun 1926-1929, Siti Soekaptinah juga menjadi pembantu Urusan Masyarakat Semarang mengepalai pondok orang ropoh dan menjadi anggota Gemeente Raad Semarang. Siti Soekaptinah juga pada tahun 1928-1929 merupakan penulis badan Kongres Perempoean Indonesia Pertama di Yogyakarta. 
Menurut Susan Blackburn dalam buku Kongres Perempuan Pertama, Tinjauan Ulang, pada tahun 1922 Nyi. Hadjar Dewantoro telah membentuk organisasi Wanita Taman Siswa yang beranggotakan guru-guru perempuan yang tergabung dalam sistem pendidikan Taman Siswa. Tujuan utama Taman Siswa itu sendiri adalah untuk melatih para pendukung Indonesia merdeka. “Oleh karena itu, Taman Siswa memiliki dasar filosofi yang berakar kuat pada filsafat Jawa, namun demikian tetap berafiliasi erat baik dengan gerakan nasionalis, maupun dengan gerakan nonpolitik yang lebih konservatif, “ ungkap Susan Blackburn.
Menurut Susan Blackburn pula, Siti Soekaptinah yang bekerja sebagai guru Taman Siswa di Yogyakarta juga mendapatkan kesempatan untuk berbicara dalam kongres tersebut. Kongres yang dihadiri sekitar 1.000 orang dalam resepsi pada tanggal 22 Desember 1928 dan 750 sampai 1.000 orang pada tiga pertemuan terbuka selama berlangsungnya kongres tersebut dianggap merupakan saat yang mengawali gerakan perempuan dan juga bagi gerakan nasionalis. Salah satu tandanya adalah besarnya jumlah peserta yang hadir dan kehadiran anggota organisasi-organisasi penting Indonesia yang dipimpin oleh para laki-laki seperti wakil dari Boedi Oetomo, Partai Nasional Indonesia, Pemoeda Indonesia, Partai Sarekat Islam, Walfadjri, Jong Java, Jong Madoera, Mohammadijah, dan Jong Islamieten Bond. (Blackburn: 2007).
            Dalam buku 45 Tahun Sumpah Pemuda yang dikutip dalam bagian Biodata Anggota BPUPKI buku Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) 28 Mei 1945-22 Agustus 1945 yang diterbitkan Sekretariat Negara Republik Indonesia (Jakarta: 1998), Siti Soekaptinah sempat menulis pengalamannya dalam berbagai pergerakan seperti 1922-1929 sebaga anggota Jong Java, Pemuda Indonesia; 1931-1934 sebagai Ketua Pengurus Besar Jong Islamieten Bonnd Dames Afdeling (JIBDA); dan 1940-1942 menjadi Penulis Kongres Perempuan Indonesia Keempat.
            Ketika Jepang mendarat di bumi pertiwi, pada tahun 1934 Siti Soekaptinah menjadi Ketua Poesat Tenaga Rakyat bagian wanita di Jakarta dan pada 1944-1945 menjadi Ketua Pengurus Pusat Huzinkai (Fujinkai). Pada tahun 1945 beliau menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) perempuan selain Mr. Raden Ayu Maria Ulfah Santoso.
            David Bourchier, dalam buku Illiberal Democracy in Indonesia, the Ideology of Family State (2015) menjelaskan representasi BPUPKI yang meliputi kaum perempuan Indonesia. Khusus untuk Siti Soekaptinah, David Bourchier menyebutkan, “Siti Soekaptinah Soenarjo Mangoenpoespito, a long time women’s right activist who had represented Parindra before the war and headed the Women’s Association during the occupation.”
            Pada tahun 1946,  Siti Soekaptinah menjadi anggota Pengurus Besar Perwari dan pada tahun 1947 menjadi Ketua Kowani Pusat.  Beliau kemudian bergabung dalam Partai Masjumi sebagai Anggota Pimpinan yang menjabat dari 1946 hingga1960. Dalam rentang waktu itu, Siti Soekaptinah terpilih sebagai anggota DPRS RI dan DPR RI pada 1950-1960, bahkan menjadi anggota Konstituante pada tahun 1956. Pada tahun 1951 sampai 1960 beliau menjadi Ketua Pengurus Besar Masjumi Muslimat.
            Tokoh perempuan yang bernama lengkap Raden Nganten Siti Soekaptinah Soenarjo Mangoenpoespito ini kemudian mendapat Tanda Penghargaan Republik Indonesia berupa Bintang Mahaputra Utama berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 048/TK/Tahun 1992 pada tanggal 12 Agustus 1992. 

Sumber Bacaan:

David Bourchier. Illiberal Democracy in Indonesia, the Ideology of Family State. Routledge (Newyork: 2015)

Susan Blackburn. Kongres Perempuan Pertama, Tinjauan Ulang. Yayasan Obor, KITLV (Jakarta: 2007).

Safroedin Bahar, dkk. (Penyunting). Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) 28 Mei 1945-22 Agustus 1945. Sekretariat Negara Republik Indonesia (Jakarta: 1998).

#Telah dimuat di Majalah Konstitusi, April 2015.


No comments: